TENGGARONG – Petani di Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara (Kukar), kini mulai merasakan manfaat fasilitas pengeringan modern UV Dryer yang dibangun untuk mengatasi kendala pengeringan padi di musim hujan.
Teknologi ini memungkinkan proses pengeringan padi tetap berlangsung meski cuaca tidak mendukung.
UV Dryer memanfaatkan atap transparan untuk menangkap sinar matahari dan menciptakan efek rumah kaca, yang meningkatkan suhu ruang 5–10 derajat lebih tinggi dari suhu luar.
Fasilitas berukuran 8 x 20 meter ini mampu mengeringkan hingga enam ton padi dalam satu kali proses. Saat ini, UV Dryer masih dalam tahap uji coba.
“Setelah bangunan selesai, langsung kami coba. Memang masih ada penyesuaian teknis, terutama penggunaan solar cell, tapi sejauh ini hasilnya memuaskan,” ujar Saikem, pemilik penggilingan padi di Desa Sumber Sari, Senin (23/6/2025).
Ia menyebut kehadiran UV Dryer sangat membantu petani menjaga kualitas padi, terutama saat cuaca tidak menentu. Pengeringan menjadi lebih cepat dan kadar air dalam padi bisa dikendalikan lebih baik.
“Ini sangat bermanfaat, apalagi saat hujan terus menerus. Padi tidak rusak karena tidak terlalu lama lembab,” katanya.
Kepala Desa Sumber Sari, Sutarno, menyampaikan bahwa UV Dryer merupakan program bantuan dari Pemkab Kukar untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan adaptasi petani terhadap perubahan iklim.
“Kami berharap ini jadi solusi jangka panjang. Kalau berhasil di sini, desa lain juga bisa mencontoh,” ujarnya.
Sutarno optimistis bahwa jika teknologi ini digunakan maksimal, maka kualitas padi akan meningkat dan harga jual pun tetap kompetitif, meskipun musim hujan berlangsung lama.
Pemerintah desa bersama petani akan terus mengevaluasi efektivitas UV Dryer dalam beberapa musim panen ke depan. Jika hasilnya konsisten positif, UV Dryer berpotensi menjadi standar baru fasilitas pengeringan padi di wilayah Kukar. (adv)






