Don't Show Again Yes, I would!

Sentra Bibit Ikan Desa Ponoragan Minta Pemulihan Demi Jaga Rantai Pasok Regional

Tambak ikan di Desa Ponoragan.

TENGGARONG – Hujan deras yang mengguyur kawasan Kutai Kartanegara selama beberapa waktu terakhir tak hanya merendam rumah warga.

Di Desa Ponoragan, Kecamatan Loa Kulu, air bah itu membawa dampak serius: ratusan hektare tambak bibit ikan terendam, ribuan benih hanyut, dan puluhan petani ikan kehilangan mata pencaharian.

Desa yang selama ini dikenal sebagai sentra pembibitan ikan air tawar terbesar di Kukar bahkan Kalimantan Timur kini berada di ambang krisis.

Kepala Desa Ponoragan, Sarmin, menyampaikan kegelisahan warganya yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor budidaya ikan.

“Desa kami ini bukan hanya penghasil bibit untuk Kukar, tapi juga untuk daerah-daerah lain di Kalimantan. Jadi kalau tidak ada perhatian serius, rantai suplai bisa terganggu dan harga bisa melonjak,” tegas Sarmin, Rabu (11/6/2025).

Menurut data desa, sekitar 125 hektare lahan tambak aktif milik petani bibit ikan terendam banjir.

Dalam hitungan hari, ribuan ekor benih ikan seperti nila, patin, dan lele hanyut tanpa bisa diselamatkan. Tak hanya itu, induk ikan yang menjadi modal utama pembibitan juga banyak yang mati atau mengalami stres berat, membuat proses pemulihan semakin sulit.

Sarmin menyebut, hingga kini belum ada bantuan nyata yang turun ke desa. Ia mendesak agar Pemkab Kukar, khususnya Dinas Perikanan, segera membuat skema pemulihan terpadu yang tidak hanya bersifat jangka pendek.

“Kami butuh induk yang unggul, bukan asal induk. Karena kalau induknya biasa, kualitas bibit menurun, dan itu berdampak luas,” ujarnya.

Permintaan itu bukan tanpa alasan. Lebih dari 60 persen warga Desa Ponoragan hidup dari aktivitas budidaya dan pembibitan ikan.

Di desa ini terdapat dua gapoktan (gabungan kelompok tani perikanan) aktif yang selama ini menjadi tulang punggung produksi.

Rantai pasok mereka menjangkau bukan hanya Kukar, tetapi juga kabupaten tetangga seperti Samarinda, Penajam Paser Utara, dan Balikpapan.

“Kami ini semacam jantungnya sektor pembibitan di wilayah Kukar. Kalau jantungnya terganggu, sistemnya ikut lemah,” lanjut Sarmin.

Ia juga menegaskan bahwa penanganan pascabanjir tak bisa dilakukan secara parsial. Petani butuh bantuan langsung berupa indukan berkualitas, pakan, perbaikan sarana tambak, dan pelatihan teknis pemulihan produksi.

Jika hal ini tak segera ditangani, kekosongan suplai bibit ikan diperkirakan bisa terjadi dalam 3–4 bulan ke depan.

Selain itu, Sarmin meminta agar desa-desa sentra produksi seperti Ponoragan mendapatkan perhatian khusus dalam perencanaan kebijakan jangka panjang, termasuk dalam pengembangan kawasan sentra perikanan berbasis mitigasi bencana.

“Bukan soal ganti rugi, tapi soal keberlangsungan. Kalau tidak cepat ditangani, kita kehilangan banyak,” tegasnya.

Saat ini, sebagian warga hanya bisa pasrah menunggu air surut dan membersihkan kolam-kolam yang rusak.

Namun untuk memulai kembali produksi, mereka membutuhkan lebih dari semangat: mereka butuh dukungan nyata dari pemerintah dan semua pihak.

Ponoragan tidak sedang bicara soal kerugian semata. Mereka sedang bicara tentang ketahanan perikanan Kukar dan Kalimantan Timur secara keseluruhan.

“Kalau bibit ikan dari sini macet, maka semua ikut terdampak. Ini soal menjaga ketahanan pangan, bukan sekadar bisnis lokal,” pungkas Sarmin. (adv)

Share: