TENGGARONG – Komoditas rumput laut di Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar), kian menunjukkan potensinya sebagai penggerak ekonomi lokal.
Kehadiran pabrik pengolahan rumput laut di wilayah tersebut menjadi tonggak penting dalam mendorong hilirisasi sektor kelautan yang selama ini hanya bertumpu pada penjualan bahan mentah.
Camat Muara Badak, Arpan, menyebut rumput laut telah menjadi andalan utama bagi masyarakat pesisir dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan beroperasinya pabrik pengolahan, hasil panen kini tak lagi harus dikirim ke luar daerah untuk diproses.
“Dulu rumput laut dikirim mentah ke Sulawesi. Sekarang, sudah bisa diolah langsung di sini. Ini tentu membuka peluang besar bagi perekonomian warga,” ujar Arpan, Senin (7/7/2025).
Dengan adanya fasilitas pengolahan, Pemcam Muara Badak mendorong masyarakat untuk aktif terlibat dalam proses hilirisasi. Tujuannya, agar nilai tambah dari rumput laut dapat dinikmati langsung oleh warga lokal, bukan pihak luar.
“Kalau bisa diolah di sini, otomatis nilai jualnya lebih tinggi. Uang pun berputar di wilayah kita sendiri, bukan keluar daerah,” tegas Arpan.
Ia menyebut, hilirisasi rumput laut tak hanya menjanjikan dari sisi harga jual, tapi juga menyerap lebih banyak tenaga kerja.
Mulai dari proses pencucian, pengeringan, fermentasi, hingga pengemasan, semua tahap membutuhkan peran aktif masyarakat.
Lebih dari sekadar bahan pangan, rumput laut memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi seperti makanan olahan, pakan ternak, hingga bahan dasar industri kosmetik dan farmasi.
Ini menjadi peluang yang ingin dimaksimalkan oleh pemerintah kecamatan melalui pelibatan UMKM lokal.
“Warga tidak hanya bisa bekerja di pabrik. Kami ingin mereka menjadi pelaku usaha, yang memproduksi makanan, minuman, atau produk turunan dari rumput laut,” jelas Arpan.
Langkah ini sejalan dengan semangat Pemkab Kukar dalam mengembangkan ekonomi berbasis potensi lokal dan mendorong kemandirian desa-desa pesisir melalui industrialisasi komoditas unggulan.
Pemerintah kecamatan berharap pabrik pengolahan ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Muara Badak.
Dengan rumput laut sebagai tulang punggungnya, masyarakat diharapkan tidak hanya menggantungkan hidup dari hasil laut mentah, tapi juga mampu menciptakan produk jadi yang bernilai jual tinggi.
“Pabrik ini bukan hanya fasilitas industri, tapi juga pintu masuk untuk perubahan ekonomi masyarakat. Kita ingin ekonomi tumbuh dari bawah, dari warga sendiri, dan berkelanjutan,” tutup Arpan. (adv)






