TENGGARONG – Raut wajah sumringah terlihat dari para petani di Kelurahan Maluhu, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar). Pasalnya, embung yang selama ini dinanti akhirnya diresmikan dan siap difungsikan penuh.
Embung tersebut mampu menyuplai air irigasi untuk 15 hektare sawah, memberikan harapan baru bagi petani yang selama ini bergantung pada air hujan dan saluran alami.
Embung Maluhu diresmikan langsung oleh Bupati Kukar Edi Damansyah. Dengan kapasitas tampung mencapai 3.000 meter kubik, embung yang dibangun di atas lahan seluas setengah hektare itu kini menjadi sumber air utama bagi lahan pertanian yang tersebar di lima RT—yakni RT 17 hingga RT 21.
“Permasalahan utama petani kita adalah air. Dengan adanya embung, kami berharap tidak ada lagi lahan pertanian yang gagal tanam atau panen karena kekeringan,” kata Edi, Kamis (24/4/2025).
Ia menegaskan bahwa pembangunan embung ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan dan mendukung kesejahteraan petani Kukar.
Salah satu petani, Suhardi (52), anggota Poktan di Kelurahan Maluhu, menyambut gembira hadirnya embung ini. Ia menyebut, pada musim kemarau lalu, sawah miliknya sempat gagal panen akibat kekurangan air.
“Alhamdulillah sekarang ada embung. Sebelumnya, kalau kemarau, kami cuma andalkan tadah hujan. Sekarang air bisa langsung dialirkan, nggak perlu lagi pakai mesin pompa dari sungai yang jauh,” ujarnya.
Suhardi berharap embung tersebut bisa terus dijaga dan dikelola dengan baik, karena sangat membantu produktivitas para petani. Ia juga mengusulkan agar ke depan ada pelatihan teknis untuk petani dalam mengelola irigasi secara efisien.
“Kalau bisa nanti dikasih pelatihan juga soal pengaturan air, supaya semua petani bisa kebagian merata,” tambahnya.
Embung ini tak hanya menjadi proyek fisik semata. Pembangunannya juga melibatkan kolaborasi antara Pemkab Kukar dan TNI, khususnya Kodim 0906/Kukar dan Kodim 0908/Bontang, dalam program Karya Bhakti dan TMMD.
Selain embung, kerja sama ini juga meliputi pembangunan jalan usaha tani, saluran irigasi, dan sumur bor.
“Kolaborasi ini penting, karena kebutuhan air untuk pertanian tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Butuh kerja bersama, komitmen bersama,” terang Edi.
Ia juga menegaskan pentingnya partisipasi masyarakat dalam merawat embung sebagai aset bersama. Menurutnya, infrastruktur ini dibangun dengan dana publik, sehingga penggunaannya pun harus dijaga secara kolektif.
“Ini bukan milik pemerintah saja, ini milik kita bersama. Kalau kita jaga sama-sama, manfaatnya juga akan terus terasa bagi generasi petani berikutnya,” tandasnya. (adv)






