Don't Show Again Yes, I would!

Perdagangan Karbon Masuk Sebelimbingan, Warga Dukung Ekonomi Hijau Berbasis Lahan Gambut

Desa Sebelimbingan, Kecamatan Kota Bangun, menjadi salah satu wilayah penting yang masuk dalam cakupan proyek, dengan luas lahan gambut mencapai 2.000 hingga 3.000 hektare.

TENGGARONG – Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) dalam mendorong pembangunan berkelanjutan kini memasuki babak baru.

Salah satu program strategis yang tengah digagas adalah perdagangan karbon berbasis lahan gambut, yang menggandeng PT Tirta Carbon Indonesia.

Dalam peta besar ini, Desa Sebelimbingan, Kecamatan Kota Bangun, menjadi salah satu wilayah penting yang masuk dalam cakupan proyek, dengan luas lahan gambut mencapai 2.000 hingga 3.000 hektare.

Kepala Desa Sebelimbingan, Syaukani, menyatakan dukungan penuh terhadap program tersebut.

Ia menyebut bahwa keterlibatan desanya menjadi momentum penting untuk mengangkat ekonomi lokal sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Kami sangat mendukung rencana kerja sama Pemkab Kukar dengan PT Tirta Carbon Indonesia. Ini bukan hanya peluang ekonomi, tapi juga langkah konkret menjaga alam yang jadi sumber kehidupan warga,” ujar Syaukani, Rabu (21/5/2025).

Proyek ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan Pemkab Kukar dan PT Tirta Carbon Indonesia dalam mengelola lahan gambut seluas sekitar 55 ribu hektare untuk mekanisme perdagangan karbon.

Sistem ini memungkinkan kawasan gambut yang dilestarikan untuk menghasilkan kredit karbon yang kemudian dapat diperjualbelikan di pasar karbon global.

Bagi Desa Sebelimbingan, sebagian kawasan gambut di wilayah mereka kini menjadi aset lingkungan yang bernilai ekonomi, bukan lagi beban konservasi.

“Dengan pendekatan seperti ini, kami tidak harus memilih antara ekonomi dan ekologi. Keduanya bisa jalan bersama,” jelas Syaukani.

Menurutnya, mayoritas masyarakat Sebelimbingan adalah nelayan. Keberadaan kawasan gambut yang lestari berdampak langsung pada keberlangsungan sumber daya perairan.

“Kalau hutannya rusak, rawa dan sungai ikut rusak. Ikan berkurang. Tapi kalau dijaga, tempat cari ikan tetap ada. Program ini jadi pelindung bagi ekonomi rakyat kecil,” tuturnya.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari warga. Harun (38), seorang nelayan yang tinggal tak jauh dari kawasan gambut, mengaku optimistis jika program ini benar-benar dilaksanakan dengan baik.

“Kami ini hidup dari rawa, dari sungai. Kalau ada program yang bisa bantu kami jaga alam, ya tentu kami dukung. Apalagi kalau nanti bisa dapat pelatihan atau bantuan untuk nelayan juga,” ujarnya.

Senada, Sarni (44), ibu rumah tangga sekaligus anggota kelompok tani wanita, berharap agar proyek karbon juga memberi ruang pemberdayaan perempuan.

“Kalau bisa, ibu-ibu juga diajak. Misalnya diajari tanam tanaman yang cocok di sekitar lahan gambut atau buat kerajinan dari bahan alam. Biar semua bisa rasa manfaatnya,” tuturnya.

Syaukani menambahkan bahwa pihaknya juga mendorong agar program ini tidak berhenti di level kerja sama teknis, tapi masuk ke aspek pemberdayaan.

Ia berharap ada pelatihan lingkungan, insentif keuangan, hingga skema pelibatan masyarakat dalam pemantauan kawasan.

“Saya selaku kepala desa, dan tentunya mewakili masyarakat Sebelimbingan, akan memberikan dukungan penuh. Kami siap bersinergi dan mengawal program ini agar bermanfaat maksimal,” tegasnya.

Proyek perdagangan karbon ini menandai babak baru dalam pola pembangunan di Kutai Kartanegara, yang mulai mengedepankan ekonomi hijau dan rendah emisi.

Jika berhasil, model ini bisa menjadi rujukan nasional dalam pengelolaan desa berbasis ekosistem gambut.

Desa Sebelimbingan, dengan dukungan sosial yang kuat dan posisi strategis dalam bentang alam Kukar, kini berada di garda depan perubahan iklim. (adv)

Share: