Kutai Kartanegara, Satusuara.co – Upaya mengatasi banjir sekaligus mendorong produktivitas pertanian di Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong, mendapat perhatian serius melalui program normalisasi Sungai Mangkurawang.
Program yang digagas Dinas Pekerjaan Umum Kutai Kartanegara (PU Kukar) ini menjadi langkah penting bagi masyarakat desa yang telah lebih dari 15 tahun terhambat menanam padi akibat pendangkalan sungai.
Kepala Desa Rapak Lambur, Muhammad Yusuf, menjelaskan bahwa normalisasi sungai akan dilakukan mulai dari Lamin Datuk hingga Rapak Lambur. Pendangkalan sungai selama bertahun-tahun menyebabkan air tidak mengalir dengan baik, sehingga lahan pertanian kerap tergenang tanpa sistem drainase yang memadai.
“Ini menjadi pekerjaan lanjutan, dengan sekitar 1,5 kilometer sungai yang belum selesai. Kami berharap dengan normalisasi ini, lahan sawah masyarakat dapat kembali produktif,” ungkap Yusuf.
Lahan sawah di Desa Rapak Lambur terbagi menjadi tiga kawasan utama. Di Dusun Durian terdapat sekitar 500 hektare sawah, di mana 300 hektare di antaranya telah menunjukkan produktivitas. Kemudian di Tahuban dan Kejawi, masing-masing memiliki luas sekitar 100 hektare. Kawasan Kejawi sendiri memiliki potensi tambahan hingga 100 hektare lahan yang dapat dioptimalkan pasca-normalisasi.
“Normalisasi ini membuka peluang besar bagi masyarakat untuk kembali mengelola lahan sawah mereka. Jika semuanya berjalan lancar, ketahanan pangan desa akan meningkat secara signifikan,” tambah Yusuf.
Selain normalisasi sungai, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar turut memberikan dukungan berupa pendampingan irigasi dan bantuan alat-alat pertanian untuk para petani. Dengan 80 persen penduduk desa bekerja sebagai petani sawah, bantuan ini diyakini akan berdampak besar pada kesejahteraan masyarakat.
“Dukungan ini sangat berarti bagi kami. Mayoritas warga bergantung pada hasil pertanian, dan upaya ini menjadi momentum penting untuk mengembalikan produktivitas sawah yang sempat terhenti,” pungkas Yusuf. (adv)






