Don't Show Again Yes, I would!

Lahan Pertanian Menyusut, Kukar Siapkan Langkah Strategis Lindungi Petani

ILUSTRASI- Pertanian di Kutai Kartanegara (Kukar) menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan statusnya sebagai lumbung pangan utama Kalimantan Timur (Kaltim).

TENGGARONG – Di tengah gempuran pembangunan dan alih fungsi lahan yang semakin marak, pertanian di Kutai Kartanegara (Kukar) menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan statusnya sebagai lumbung pangan utama Kalimantan Timur (Kaltim).

Dengan menyumbang 42 persen kebutuhan beras provinsi, Kukar memegang peran strategis dalam ketahanan pangan daerah.

Namun, tanpa langkah konkret dalam menjaga lahan pertanian dan mendukung petani, posisi ini bisa terancam.

Bupati Kukar, Edi Damansyah, menyatakan bahwa ancaman terbesar bagi pertanian Kukar saat ini adalah alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri dan permukiman, terutama dengan meningkatnya pembangunan seiring hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Kita ingin pertanian di Kukar tetap menjadi tulang punggung ketahanan pangan Kaltim. Namun, jika lahan terus berkurang, maka produksi pangan kita akan terganggu. Oleh karena itu, BUMDes dan skema pembiayaan petani harus diperkuat agar sektor pertanian tetap berkembang,” ujar Edi, Selasa (4/3/2025).

Selain berkurangnya lahan pertanian, akses modal usaha masih menjadi kendala utama bagi petani. Banyak petani yang mengalami kesulitan mendapatkan kredit dari perbankan karena persyaratan yang ketat.

Akibatnya, mereka terpaksa meminjam modal dari tengkulak dengan bunga tinggi, yang menyebabkan keuntungan mereka semakin tipis.

Sebagai solusi, Pemkab Kukar meluncurkan program Kredit Kukar Idaman, sebuah skema pembiayaan tanpa agunan dengan bunga ringan yang bertujuan untuk membantu petani mengembangkan usahanya.

“Kredit Kukar Idaman ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan petani terhadap tengkulak, sehingga mereka bisa menikmati hasil panennya dengan lebih layak,” tambah Edi.

Selain skema pembiayaan, Pemkab Kukar juga mengoptimalkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar dapat membantu petani dalam pemasaran dan distribusi hasil pertanian, sehingga mereka tidak perlu menjual hasil panennya dengan harga murah kepada tengkulak.

Tak hanya soal permodalan, Pemkab Kukar juga mendorong modernisasi pertanian agar lebih efisien dan berdaya saing.

Berbagai langkah telah dilakukan, di antaranya:

Penggunaan Teknologi Pertanian. Petani didorong untuk menggunakan alat dan mesin pertanian modern guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi lahan.

Lalu, Diversifikasi Pertanian. Tidak hanya bergantung pada beras, tetapi juga mengembangkan hortikultura dan perikanan untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.

Kemudian, Penguatan Peran BUMDes dan Koperasi Tani. Langkah ini guna memastikan petani memiliki akses pasar yang lebih luas dengan harga jual yang lebih stabil.

Pemkab Kukar juga berencana menjalin kemitraan dengan perusahaan agribisnis untuk membantu petani dalam pemasaran hasil panen mereka, sekaligus mendukung mereka dalam adopsi teknologi pertanian terbaru.

Dengan berbagai langkah strategis yang diterapkan, Pemkab Kukar optimistis bahwa daerahnya mampu mempertahankan posisi sebagai pemasok utama pangan bagi Kalimantan Timur.

Selain beras, sektor perikanan dan hortikultura terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya diversifikasi sumber pangan.

Edi berharap bahwa dengan kombinasi pembiayaan yang lebih mudah, modernisasi pertanian, dan perlindungan lahan pertanian, Kukar dapat menjadi model ketahanan pangan berkelanjutan di Kaltim.

“Kita harus memperkuat ekosistem pertanian di Kukar, mulai dari produksi, pembiayaan, hingga pemasaran. Semua ini harus dikelola dengan baik agar petani kita semakin sejahtera dan ketahanan pangan tetap terjaga,” pungkasnya. (adv)

Share: