Don't Show Again Yes, I would!

KTT BRICS 2025 di Brasil Tanpa Putin dan Xi Jinping, Ada Apa di Balik Ketidakhadiran Dua Pemimpin Kunci?

Pertemuan puncak BRICS 2025 yang digelar di Brasil pada Minggu, 6 Juli 2025, berlangsung tanpa kehadiran dua figur utama: Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping. Ketidakhadiran keduanya menimbulkan spekulasi luas terkait arah dan soliditas BRICS di tengah perluasan anggota yang semakin kompleks.

Xi Jinping Absen Setelah 12 Tahun Hadir Rutin

Melansir laporan The Guardian (Sabtu, 5/7/2025), absennya Presiden Xi Jinping cukup mengejutkan. Selama 12 tahun terakhir, ia selalu hadir di setiap Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS. Tahun ini, tanpa memberikan alasan resmi, Beijing memilih mengirimkan Perdana Menteri Li Qiang sebagai perwakilan, menandai ketidakhadiran pertama Xi di forum ini.

Vladimir Putin Tak Hadir karena Bayang-Bayang ICC

Sementara itu, ketidakhadiran Putin memiliki konteks hukum yang lebih jelas. Presiden Rusia masih menjadi target surat penangkapan dari Pengadilan Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan keterlibatannya dalam deportasi anak-anak Ukraina. Karena Brasil adalah negara yang menandatangani Statuta Roma (ICC), kehadiran Putin bisa memunculkan potensi diplomatik sensitif. Putin memilih untuk tidak hadir sebagai bentuk “kehati-hatian politik”, mengikuti pola yang sama saat absen dari KTT BRICS 2023 di Afrika Selatan.

Perluasan BRICS: Menambah Kekuatan atau Memicu Ketegangan?

Seiring bertambahnya anggota baru seperti Indonesia, Iran, Mesir, Ethiopia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, BRICS kini menjadi aliansi global yang lebih besar dan beragam. Namun, perluasan ini juga menimbulkan dilema ideologis. Negara-negara pendiri seperti Brasil, India, dan Afrika Selatan—yang menganut sistem demokrasi—merasa tidak sepenuhnya sejalan dengan beberapa anggota baru yang cenderung otoriter.

Pertanyaannya: apakah pertambahan anggota justru mengaburkan visi awal BRICS sebagai kekuatan penyeimbang G7 dengan identitas dan arah yang jelas?

BRICS dan Arah Dunia Multipolar

Mantan Menteri Luar Negeri Brasil, Antonio Patriota, dalam sebuah forum di Overseas Development Institute, menyebutkan bahwa dunia sedang bergerak menuju era multipolaritas. Menurutnya, kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah Donald Trump dan sesudahnya telah mempercepat pergeseran tersebut. Kekuatan global kini tak lagi terpusat di satu kutub Barat, melainkan mulai terbagi dalam blok-blok regional baru yang mencerminkan kepentingan nasional masing-masing.

“Kita melihat perubahan besar dalam cara negara-negara memandang aliansi. Bahkan Eropa tidak lagi sepenuhnya sejalan dengan AS dalam isu perdagangan, keamanan, atau demokrasi,” ujar Patriota.

Absen Biasa atau Sinyal Politik Besar?

Ketidakhadiran Putin dan Xi bukan sekadar absensi biasa dalam forum internasional. Ini mencerminkan realitas politik global yang makin kompleks dan beragam. Ketika aliansi seperti BRICS semakin heterogen secara politik dan ekonomi, perbedaan visi dan pendekatan pun tak terhindarkan.

Apakah BRICS akan tetap solid sebagai tandingan G7? Atau justru mulai terfragmentasi karena ketegangan internal?

Yang jelas, dunia sedang menuju fase baru dalam dinamika geopolitik, di mana blok-blok besar tidak lagi ditentukan oleh kesamaan ideologi, melainkan oleh kebutuhan strategis masing-masing negara.

Share: