TENGGARONG – Petani sayur di Kelurahan Maluhu, Kecamatan Tenggarong, kini dibuat resah oleh serangan kawanan monyet liar yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Gangguan satwa liar ini tidak hanya menghambat aktivitas pertanian, tetapi juga mengancam keberhasilan panen, terutama pada lahan-lahan baru yang mulai digarap untuk budidaya hortikultura.
Tanaman seperti pakcoy, bayam, dan kangkung menjadi sasaran empuk kawanan monyet yang turun dari kawasan hutan sekitar. Hanya dalam hitungan jam, satu petak kebun bisa rusak total sebelum sempat dipanen.
“Setiap pagi mereka datang dalam rombongan. Sayuran yang baru tumbuh sudah habis dicabuti atau dirusak. Petani jadi rugi karena tidak bisa panen maksimal,” keluh salah satu petani Maluhu, Minggu (29/6/2025).
Lurah Maluhu, Tri Joko Kuncoro, membenarkan adanya gangguan monyet yang kini menjadi tantangan baru bagi warganya.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas pertanian di lahan tidur membuat interaksi antara manusia dan satwa liar makin sering terjadi.
“Banyak warga mulai membuka lahan tidur untuk dijadikan kebun sayur. Tapi ternyata ini berdampak ke habitat monyet. Mereka turun karena mungkin kehilangan sumber makan di hutan,” jelasnya saat ditemui belum lama ini.
Meski gangguan monyet bisa dianggap sebagai bentuk “hama alami”, namun penanganannya tidak bisa disamakan dengan hama tanaman biasa. Tri Joko menyebut pihaknya memilih pendekatan yang humanis dan ekologis, tanpa menyakiti satwa.
“Kami tidak ingin ambil langkah ekstrem yang menyakiti hewan. Ini masalah keseimbangan ekosistem juga. Jadi pendekatan kami bertahap dan penuh pertimbangan,” tegasnya.
Beberapa solusi alternatif telah dicoba oleh warga secara mandiri, seperti memelihara anjing penjaga, memasang umbul-umbul berwarna mencolok, dan menggunakan suara petasan untuk menakut-nakuti monyet.
Namun, hasilnya belum signifikan karena kawanan monyet kerap kembali setelah beberapa hari.
Tri Joko menilai perlunya kerja sama lintas pihak untuk penanganan yang lebih sistematis, termasuk dukungan dari Dinas Pertanian dan pihak kehutanan.
“Kami akan koordinasi lebih lanjut, mungkin perlu pendekatan yang lebih ilmiah. Kalau perlu dibuatkan jalur buffer zone antara kebun dan hutan,” ujarnya.
Di tengah tantangan ini, masyarakat Maluhu tetap melanjutkan upaya pemberdayaan lahan tidur menjadi kebun produktif.
Namun, mereka berharap ada solusi jangka panjang agar panen tidak terus-menerus diganggu, dan kehidupan petani bisa tetap berlanjut tanpa konflik dengan alam. (adv)






