Don't Show Again Yes, I would!

Embung Segera Dibangun, Petani Suka Maju Siap Bangkit Garap 157 Hektare Lahan Sawah

Ilustrasi- Pertanian di Desa Suka Maju, Kutai Kartanegara.

TENGGARONG – Desa Suka Maju, Kecamatan Tenggarong Seberang, tengah bersiap menapaki babak baru pembangunan pertanian.

Dengan total 157 hektare lahan sawah aktif, desa ini menyimpan potensi besar sebagai lumbung pangan lokal di Kutai Kartanegara (Kukar).

Namun selama ini, potensi itu belum sepenuhnya tergarap maksimal akibat keterbatasan pasokan air.

Pembangunan embung yang direncanakan pada tahun 2025 diyakini menjadi kunci untuk mengubah kondisi tersebut.

Kepala Desa Suka Maju, Kuswara, menjelaskan bahwa dari total 157 hektare lahan pertanian, sekitar 50 hektare di antaranya belum bisa diolah secara optimal karena tergantung pada curah hujan dan minimnya infrastruktur irigasi.

“Lahan kami luas, tapi sebagian masih terpaksa dibiarkan tidur. Petani sebenarnya mau menggarap, tapi tanpa air cukup, mereka tidak berani ambil risiko. Karena itu embung ini sangat kami perjuangkan,” ujar Kuswara, Kamis (22/5/2025).

Embung yang akan dibangun dirancang seluas 6 hektare dengan kapasitas aliran air sekitar 7 liter per detik.

Volume itu dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan air bagi seluruh lahan sawah desa secara bertahap, termasuk membuka kembali 50 hektare lahan yang selama ini terbengkalai.

“Embung ini bukan hanya akan mengairi sawah aktif yang sudah ada, tapi akan menghidupkan kembali puluhan hektare yang selama ini menunggu pasokan air. Bayangkan kalau seluruh 157 hektare bisa panen secara reguler, desa ini bisa jadi pusat produksi beras untuk Kukar,” jelas Kuswara.

Saat ini, lahan aktif hanya menghasilkan satu kali panen dalam setahun. Dengan embung, diharapkan petani bisa meningkatkan intensitas tanam menjadi dua hingga tiga kali setahun.

Dukungan atas rencana pembangunan embung juga datang dari petani setempat. Karno (52), petani yang menggarap sawah seluas satu hektare, mengaku selama ini hanya bisa mengandalkan hujan.

“Kami tanam sekali saja setahun, itu pun kadang hasilnya kurang karena air susah. Kalau nanti ada embung, bisa dua atau tiga kali tanam, kami bisa lebih untung,” ujarnya penuh harap.

Karno juga menyebut bahwa petani di Suka Maju sebenarnya siap kerja keras, asalkan sarana pendukung seperti air tersedia.

“Lahan ada, tenaga ada. Tapi tanpa air, ya kita diam. Sekarang harapan kami besar ke embung ini,” tuturnya.

Senada, Yati (47), petani perempuan yang tergabung dalam kelompok tani wanita (KWT), berharap embung nantinya juga membuka ruang bagi pelatihan dan bantuan pertanian terpadu.

“Kami juga ingin terlibat. Kalau air lancar, kami bisa tanam sayur-sayuran di pekarangan, buat tambahan keluarga. Jadi tidak hanya padi saja yang tumbuh, tapi ekonomi desa juga ikut hidup,” katanya.

Kuswara menegaskan bahwa pembukaan seluruh potensi 157 hektare ini sejalan dengan target pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan berbasis desa.

“Kami tidak muluk-muluk. Cukup fasilitasi kami dengan air, petani di sini akan tunjukkan hasilnya. Lahan kami siap, SDM kami siap, semangat juga tinggi. Tinggal pemerintah hadir melalui pembangunan embung,” tegasnya.

Lebih dari sekadar soal luas lahan, bagi Kuswara dan warga Desa Suka Maju, angka 157 hektare adalah simbol harapan dan kemandirian.

“Embung ini adalah awal. Tapi hasil akhirnya adalah desa yang hidup, petani yang sejahtera, dan pangan yang cukup untuk generasi kita nanti,” pungkas Kuswara.

Dengan rencana pembangunan embung yang kini masuk dalam agenda prioritas Musrenbang dan didukung oleh Bappeda Kukar, Desa Suka Maju bersiap membuktikan bahwa 157 hektare lahan bukan sekadar angka di peta, tapi aset nyata menuju desa mandiri pangan di jantung Kukar. (adv)

Share: