Don't Show Again Yes, I would!

Dana RT di Kutai Kartanegara Naik 3 Kali Lipat, Gotong Royong Makin Kuat

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, Arianto.

TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kian serius membangun kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Melalui program Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) 2025, tradisi kolektif ini kembali dihidupkan dengan dukungan anggaran yang meningkat signifikan.

Peningkatan nilai bantuan keuangan fiskal per RT dari Rp50 juta menjadi Rp150 juta menjadi pendorong utama.

Dengan alokasi anggaran yang lebih besar, partisipasi warga dalam kegiatan gotong royong diproyeksikan akan meningkat secara kualitas maupun kuantitas.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, Arianto, menuturkan bahwa sejak awal, Pemkab Kukar telah menetapkan 15 persen dari dana RT digunakan untuk kegiatan gotong royong. Kini, ia berharap porsi tersebut bisa ditingkatkan seiring peningkatan nilai anggaran.

“Sekarang bantuannya naik tiga kali lipat, tentu ini peluang bagus. Harapannya gotong royong tidak hanya hidup, tapi juga berdampak langsung pada lingkungan sekitar,” ujar Arianto, Sabtu (5/7/2025).

Ia mengungkapkan bahwa sejauh ini, sekitar Rp11 miliar telah digunakan untuk berbagai aksi gotong royong di desa dan kelurahan, mulai dari perbaikan fasilitas umum, pengecatan tempat ibadah, hingga pembangunan saluran air dan infrastruktur dasar.

“Banyak kegiatan muncul dari inisiatif warga sendiri. Bahkan tanpa anggaran tambahan, warga berkontribusi lewat tenaga, konsumsi, hingga alat kerja. Itu yang luar biasa,” jelasnya.

Lebih dari sekadar kegiatan fisik, Arianto menekankan bahwa nilai utama dari BBGRM adalah penguatan kebersamaan sosial yang selama ini menjadi akar budaya masyarakat Kutai.

“Gotong royong itu warisan kita. Kalau hanya anggaran, itu bisa habis. Tapi kalau semangatnya hidup, dia akan bertahan lintas generasi,” tegasnya.

DPMD Kukar akan terus mendorong setiap RT memaksimalkan pemanfaatan anggaran secara tepat dan partisipatif.

Jika terbukti membawa dampak positif, alokasi untuk kegiatan gotong royong bisa saja diperluas ke sektor lain.

“Bukan tidak mungkin kita tambah porsinya. Ini bukan hanya soal pembangunan fisik, tapi soal nilai sosial yang tumbuh dari bawah,” tutup Arianto. (adv)

Share: