Don't Show Again Yes, I would!

Bank Sampah Melayu Ubah 2 Ton Limbah Jadi Harapan Baru Warga Tenggarong

Ilustrasi- Bank Sampah di Kelurahan Melayu, Tenggarong, Kutai Kartanegara.

TENGGARONG – Dari yang tadinya dianggap tak bernilai, kini dua ton sampah setiap bulan justru menjadi pemantik perubahan di Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong.

Melalui Program Bank Sampah, kawasan ini mulai menata wajah baru: lebih bersih, sehat, dan berdaya.

Di balik program ini, bukan hanya soal pengelolaan limbah. Ada semangat kolektif warga untuk mengubah gaya hidup dari buang sembarangan menjadi memilah dan menabung sampah yang bisa diolah kembali.

“Bank Sampah ini bukan cuma tempat buang sampah. Ini pusat edukasi, pusat perubahan, dan pusat harapan,” ujar Taufik Anwar, Kasi Pembangunan Kelurahan Melayu, Rabu (25/6/2025).

Gedung Bank Sampah yang kini aktif setiap hari menjadi tempat warga menyetorkan sampah yang telah dipilah, mulai dari plastik, kertas, hingga limbah rumah tangga organik.

Hasil pengelolaan itu tak hanya mengurangi beban ke TPA, tapi juga menghasilkan nilai ekonomi baru.

Namun, Taufik tak menampik masih banyak pekerjaan rumah. Salah satunya kebutuhan alat press sampah yang bisa membantu memadatkan limbah agar efisien dalam penyimpanan dan pengangkutan.

“Kalau ada alat press, kapasitas pengelolaan kami bisa dua kali lipat. Tapi kami juga perlu pelatihan dan dukungan teknis karena alat ini tidak sederhana penggunaannya,” terangnya.

Kendati begitu, antusiasme warga perlahan tumbuh. Sosialisasi rutin melalui media sosial, kerja sama dengan komunitas, hingga edukasi dari rumah ke rumah jadi cara Kelurahan Melayu merangkul partisipasi lebih luas.

“Kami sadar, kunci dari semua ini adalah warga. Kalau mereka tidak terlibat, Bank Sampah tidak akan maksimal. Tapi kalau mereka terlibat, kita bisa ubah sampah jadi sumber penghasilan tambahan,” tutur Taufik.

Fakta menariknya, sebagian limbah yang terkumpul kini diolah menjadi barang bernilai—mulai dari kerajinan tangan hingga bahan daur ulang untuk industri kecil.

Bahkan, sebagian warga sudah mulai menghitung hasil “tabungan” mereka di Bank Sampah sebagai tambahan penghasilan bulanan.

Lebih jauh dari itu, Taufik menegaskan bahwa dampak terbesarnya justru terasa di aspek kesehatan masyarakat.

“Lingkungan bersih bisa menekan potensi penyakit, bahkan membantu pencegahan stunting. Jadi ini bukan sekadar soal kebersihan, ini soal masa depan,” tegasnya.

Bank Sampah Kelurahan Melayu kini mulai dikenal sebagai model inspiratif. Tak hanya mengubah cara pandang terhadap sampah, tapi juga membuka jalan menuju pembangunan berbasis partisipasi warga dan keberlanjutan lingkungan.

“Ini langkah kecil, tapi kami percaya bisa berdampak besar. Kami ingin jadi teladan, bukan hanya di Kukar, tapi di mana pun orang masih ragu bahwa sampah bisa jadi solusi,” pungkas Taufik.

Dari tumpukan limbah, harapan baru tumbuh. Dan Kelurahan Melayu telah membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal-hal yang sering dianggap sepele. (adv)

Share: