TENGGARONG – Di balik rimbunnya hutan Desa Sanggulan, Kecamatan Sebulu, sebuah gua purba kembali hidup.
Bukan oleh obor wisata atau proyek besar pariwisata, melainkan oleh langkah-langkah kecil penuh makna: tangan-tangan mahasiswa pencinta alam yang datang untuk membersihkan, menyusuri, dan mencintai Gua Binuang seperti rumah sendiri.
Minggu (15/6/2025), belasan anggota Mapala (mahasiswa pencinta alam) dari berbagai organisasi turun langsung ke jalur gua.
Mereka tidak datang dengan pamflet promosi wisata, melainkan dengan alat sederhana, semangat gotong royong, dan tekad: menjaga Gua Binuang agar tetap menjadi warisan geologis dan ekologis yang hidup.
Aksi bertajuk “Penelusuran dan Pembersihan Jalur Gua Binuang” ini diprakarsai oleh Wahana Mahasiswa Pencinta Alam (Wamapala) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), bekerja sama dengan Nuryasispala Sanggulan, Mapala Politani Samarinda, serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sanggulan.
“Gua ini terbentuk selama ribuan tahun, bukan warisan biasa. Jika tidak dijaga hari ini, maka besok mungkin hanya tinggal cerita,” ujar Feri Ramadhan, Ketua Umum Wamapala Unikarta.
Menurut Feri, komunitasnya bukan kali pertama turun ke gua ini. Mereka telah menanam pohon di sekitar kawasan, mengibarkan bendera Merah Putih di dalam lorong-lorong gelap Gua Binuang, hingga bermalam di sana.
Baginya, Gua Binuang bukan sekadar lokasi, tapi ruang hidup yang memiliki jiwa dan sejarah.
“Kami merasa punya tanggung jawab moral. Ini bukan tempat wisata komersial, ini rumah bersama,” tambahnya.
Kegiatan pembersihan mencakup jalur susur gua dan aliran sungai bawah tanah, yang kerap dipenuhi sampah alami maupun limbah dari hulu.
Di sinilah titik kritis permasalahan dimulai.
Fahruddin, Kepala Desa Sanggulan, mengapresiasi penuh gerakan ini.
Menurutnya, inisiatif komunitas seperti Mapala menjadi angin segar bagi upaya konservasi yang selama ini terkendala anggaran dan prioritas.
“Kami sangat berterima kasih kepada teman-teman mahasiswa. Mereka datang bukan hanya untuk bertualang, tapi juga ikut merawat. Inisiatif seperti ini sangat kami butuhkan,” kata Fahruddin.
Namun ia tak menutup mata terhadap tantangan yang ada. Salah satu yang paling mencolok adalah keruhnya air gua, yang diduga berasal dari aktivitas perusahaan di hulu sungai.
Meskipun tak secara langsung menyebut nama, Fahruddin menegaskan pentingnya mensterilkan kawasan hulu dari aktivitas yang berpotensi mencemari lingkungan.
“Kalau airnya kotor, kami tidak bisa bersihkan langsung karena harus menunggu proses anggaran melalui musyawarah desa. Sementara itu, gua tetap kotor. Maka partisipasi seperti ini jadi penopang utama,” tegasnya.
Sebagai bagian dari keterbatasan itu, pembersihan Gua Binuang belum bisa dijadikan program rutin pemerintah desa.
Anggaran hanya bisa digelontorkan melalui skema padat karya, yang artinya sangat tergantung pada siklus musyawarah dan prioritas pembangunan tahunan.
Namun semangat komunitas telah menambal
kekosongan itu. Dari lorong-lorong sunyi Gua Binuang, kini tumbuh gerakan konservasi akar rumput—yang tidak bergantung pada proyek, tetapi pada cinta terhadap alam dan masa depan. (adv)






