Don't Show Again Yes, I would!

Muara Muntai Ilir Tinggalkan Pola Lama, Bangun Desa Lewat Kekuatan Nelayan

Nelayan di Muara Muntai Ilir, Kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegara sebagai penggerak ekonomi.

TENGGARONG – Desa Muara Muntai Ilir, Kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegara (Kukar), menunjukkan bahwa membangun desa tak lagi harus menunggu program dari atas.

Dalam menghadapi perubahan zaman dan tekanan ekonomi, desa ini memilih jalur berbeda: membangun jejaring, menggali potensi sendiri, dan menguatkan fondasi ekonomi rakyat dari sektor paling dekat dengan kehidupan warga yakni perikanan.

Pemerintah Desa yang dipimpin Kepala Desa Arifadin Nur menyadari bahwa tantangan saat ini tak cukup dihadapi dengan program rutinitas atau pendekatan top-down semata. Maka, desentralisasi ide dan kolaborasi antardesa menjadi kunci utama.

“Kami ingin pembangunan desa lebih terarah. Jadi kami menggandeng desa lain untuk sama-sama menggali potensi dan memperkuat BUMDes,” ujar Arifadin, Sabtu (14/6/2025).

Langkah strategis itu diwujudkan melalui kemitraan antar wilayah Muara Muntai Ilir menjalin kerja sama dengan Desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah, sebuah desa yang telah lebih dulu sukses mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan sektor wisata berbasis komunitas.

Kerja sama ini bukan sekadar studi banding, tetapi pertukaran praktik baik untuk penguatan kelembagaan ekonomi lokal.

Muara Muntai Ilir belajar bagaimana menyinergikan BUMDes dan koperasi secara tepat sasaran, tanpa tumpang tindih, serta menyesuaikan program dengan kebutuhan riil masyarakat.

Saat ini, sekitar 80 persen warga Muara Muntai Ilir adalah nelayan, baik yang menangkap ikan secara tradisional maupun membudidayakan ikan air tawar.

Maka, arah pembangunan pun dirancang dari titik itu menjadikan nelayan sebagai pusat penggerak ekonomi desa.

“Program-program kami akan fokus mendukung nelayan. Mereka adalah penggerak utama ekonomi keluarga di desa ini,” terang Arifadin.

Salah satu bentuk konkret dukungan tersebut adalah pembentukan Koperasi Merah Putih, yang diposisikan sebagai mesin baru untuk mendistribusikan manfaat pembangunan ekonomi secara lebih adil dan inklusif.

Koperasi ini akan fokus pada pengadaan bibit ikan, penyuluhan, penyediaan pakan, hingga pembelian dan pemasaran hasil tangkapan, sehingga nelayan tidak hanya memproduksi, tetapi juga memiliki kekuatan tawar dalam rantai pasok.

“Koperasi ini harus berjalan berdampingan dengan BUMDes, tidak boleh tumpang tindih. Kita fokuskan ke potensi yang nyata, yaitu perikanan,” tegasnya.

Lebih dari sekadar institusi ekonomi, koperasi ini diharapkan menjadi simbol perubahan cara berpikir masyarakat desa dari ketergantungan menjadi kemandirian, dari individu menjadi kolektif.

Tak berhenti di situ, pemerintah desa juga sedang menyusun peta kebutuhan prioritas masyarakat, termasuk sektor penopang seperti infrastruktur sederhana dan pariwisata berbasis alam dan budaya.

“Kami sedang menyusun apa yang benar-benar dibutuhkan warga, termasuk mengembangkan potensi wisata yang ada di desa,” imbuh Arifadin.

Dengan pendekatan seperti ini, Muara Muntai Ilir perlahan menjauh dari pola lama yang pasif dan mulai membentuk model pembangunan baru berbasis potensi nyata, sinergi kelembagaan lokal, dan kolaborasi lintas batas desa.

“Harapannya koperasi ini benar-benar bisa mensejahterakan anggotanya, dan secara umum bisa mendorong ekonomi kerakyatan Desa Muara Muntai Ilir,” pungkasnya.

Muara Muntai Ilir menunjukkan bahwa perubahan di desa tidak harus menunggu datangnya bantuan besar. Terkadang, perubahan paling kuat lahir dari kesadaran untuk bangkit bersama, dari warga sendiri. (adv)

Share: