TENGGARONG – Empat desa di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sedang bersiap memasuki babak baru transformasi ekonomi berbasis investasi terpadu.
Desa Loa Raya, bersama Loa Pari, Loa Ulung, dan Tanjung Batu, kini tengah dirancang menjadi kawasan terpadu yang mencakup sektor perkebunan, industri, pariwisata, dan perumahan dalam skema investasi skala besar dari investor asal Malaysia.
Di bawah kendali grup usaha MKH Malaysia yang dipimpin oleh Dato Tan Sri, investasi tersebut akan digulirkan melalui entitas lokal PT Megah Utama Mandiri (MUM), dengan pendekatan berbasis potensi lokal tiap desa.
Dari perkebunan durian, singkong, hingga pembangunan pabrik pengolahan dan perumahan modern, proyek ini disebut-sebut akan mengubah wajah kawasan tersebut dalam lima tahun ke depan.
Kepala Desa Loa Raya, Martin, mengungkapkan bahwa master plan pengembangan kawasan sudah dirancang dan disepakati dalam pembahasan lintas desa. Masing-masing desa memiliki peran strategis sesuai keunggulannya.
“Di Loa Raya akan difokuskan untuk perkebunan. Sementara Loa Pari akan dikembangkan untuk pariwisata dan perkebunan, Loa Ulung untuk perumahan dan perkebunan, dan Tanjung Batu untuk kawasan industri,” ujar Martin, Kamis (12/6/2025).
Dari sisi luasan lahan, Loa Raya menjadi desa dengan cakupan area terbesar, mencapai sekitar 526 hektare, dari total lebih dari 1.000 hektare lahan yang akan dioptimalisasi melalui kerja sama dengan masyarakat setempat.
Seluruh desa kini tengah melakukan identifikasi lahan produktif dan pengelompokannya ke dalam blok-blok pengembangan.
“Kami akan survei agar bisa diketahui dengan jelas lahan mana yang cocok untuk durian, mana yang untuk singkong atau pisang. Tanah milik warga akan dikerjasamakan dengan sistem bagi hasil,” lanjut Martin.
Model bisnis yang ditawarkan kepada masyarakat cukup inklusif. Untuk sektor perkebunan, tidak dilakukan pembebasan lahan.
Alih-alih, warga justru dilibatkan melalui pola kemitraan berbasis bagi hasil, dengan skema 25 persen untuk masyarakat dan 75 persen untuk investor.
Lahan tetap menjadi milik warga, namun dikelola bersama melalui wadah seperti koperasi desa atau BUMDes.
Khusus untuk pabrik pengolahan dan perumahan, pembebasan lahan akan dilakukan terbatas, salah satunya di Desa Loa Ulung.
Sementara pabrik utama direncanakan akan dibangun di Desa Tanjung Batu yang memiliki keunggulan geografis karena berada di tepi sungai ideal untuk pengembangan pelabuhan distribusi hasil pertanian.
“Pabrik ini nantinya menerima bahan baku dari empat desa tersebut. Jika belum cukup, bisa juga dipasok dari desa-desa lain. Ini tentu membuka banyak peluang kerja bagi masyarakat,” jelas Martin.
Tak hanya menjadi proyek ekonomi, inisiatif ini juga diharapkan menjadi proyek sosial dan transformasi desa.
Ke depan, desa-desa tersebut akan memiliki fasilitas penunjang, mulai dari infrastruktur jalan, listrik, hingga pelatihan bagi petani dan pemuda desa agar mampu terlibat langsung dalam ekosistem baru yang sedang dibangun.
Martin juga menyebut bahwa saat ini pihaknya bersama tiga kepala desa lain tengah menyusun rekomendasi teknis untuk memulai survei mendalam di lapangan, sebelum pelaksanaan investasi dilakukan bertahap.
“Kita tidak ingin terburu-buru. Rencana ini besar, jadi harus matang. Harus adil bagi masyarakat dan menguntungkan semua pihak,” tambahnya.
Jika terealisasi sesuai rencana, maka Loa Raya dan tiga desa sekitarnya berpeluang menjadi kawasan ekonomi baru berbasis pertanian modern dan industri olahan di Kukar.
Selain meningkatkan pendapatan warga, proyek ini juga diyakini dapat mendorong persebaran investasi ke kawasan pedesaan Kukar secara lebih merata dan berkelanjutan.
Dengan pendekatan kolaboratif dan partisipatif, pemerintah desa berharap proyek ini tidak hanya menciptakan peluang kerja, tetapi juga membentuk ekosistem ekonomi baru yang tangguh, mandiri, dan mengakar dari desa. (adv)






