TENGGARONG – Terletak di tengah hamparan hutan dan perbukitan di Kecamatan Tenggarong Seberang, Gua Batu Gelap perlahan bersolek.
Bukan untuk menjadi objek wisata biasa, melainkan sebagai ikon ekowisata konservatif yang menggabungkan pesona alam, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat desa.
Langkah ini diinisiasi oleh Pemerintah Desa Suka Maju yang tahun ini mulai memantapkan diri menjadi desa wisata berbasis konservasi.
Setelah sekian lama Gua Batu Gelap hanya dikenal oleh komunitas pecinta alam dan mahasiswa penjelajah gua, kini destinasi unik itu siap menyambut khalayak luas secara lebih tertata.
Kepala Desa Suka Maju, Kuswara, menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan bukan hanya sekadar pembangunan fisik semata. Namun, desa ingin menghadirkan model pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kami ingin Gua Batu Gelap menjadi contoh wisata yang berkelanjutan. Bukan sekadar tempat hiburan, tapi juga sarana edukasi dan sumber ekonomi warga,” ujar Kuswara, Senin (9/6/2025).
Gua Batu Gelap dikenal dengan keunikan struktur geologinya. Memiliki 34 pintu saling terhubung, gua ini menawarkan petualangan berkelas bagi penikmat wisata minat khusus seperti susur gua (caving), fotografi gua, dan eksplorasi flora-fauna bawah tanah. Sayangnya, selama bertahun-tahun lokasi ini belum tergarap maksimal.
Memasuki tahun 2025, Desa Suka Maju memulai grand design penataan ekowisata. Dimulai dengan pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pembangunan jalan akses menuju gua, pengajuan listrik ke PLN, serta rencana pembangunan gazebo dan tempat istirahat wisatawan.
“Kami sudah semenisasi jalan sekitar dua kilometer ke arah gua, dan mengusulkan pemasangan listrik PLN. Ini langkah awal untuk menciptakan kawasan wisata yang layak dan aman,” jelas Kuswara.
Yang menarik, strategi desa tidak hanya fokus pada fisik. Pelibatan warga lokal, khususnya pemuda dan kelompok perempuan, menjadi kunci sukses yang sedang dibangun.
Pokdarwis yang dibentuk diisi oleh anak-anak muda desa yang akan dilatih menjadi pemandu wisata, penjaga kawasan, hingga pengelola homestay dan usaha warung lokal.
“Kami tidak ingin hanya jadi penonton. Warga harus dilibatkan langsung, karena ini juga cara untuk meningkatkan pendapatan mereka,” tambah Kuswara.
Menurutnya, ke depan, wisatawan yang datang ke Gua Batu Gelap tidak hanya menikmati keindahan formasi batu gamping, tetapi juga bisa merasakan keramahan warga, menginap di rumah penduduk, dan mencicipi produk UMKM lokal. Dengan begitu, manfaat ekonomi benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat.
Namun di tengah semangat pengembangan, Kuswara menekankan bahwa aspek pelestarian tetap menjadi prioritas utama.
Pemerintah desa berkomitmen membatasi aktivitas yang berpotensi merusak formasi gua, seperti vandalisme, penambangan liar, atau pembangunan yang tidak ramah lingkungan.
“Gua ini harus tetap alami. Karena justru itu nilai jualnya. Maka, semua pembangunan dilakukan dengan pendekatan ramah lingkungan,” tegasnya.
Ia juga berharap, upaya ini dapat menjadi model inspiratif bagi desa-desa lain di Kutai Kartanegara, yang memiliki potensi alam namun belum tergarap maksimal.
Melalui kolaborasi warga, teknologi tepat guna, dan komitmen menjaga alam, desa kecil pun bisa menciptakan perubahan besar.
Jika Gua Batu Gelap berhasil dikembangkan sesuai visi yang dicanangkan, Desa Suka Maju tidak hanya mencetak destinasi baru di peta wisata Kukar, tetapi juga membuktikan bahwa pelestarian alam dan peningkatan ekonomi desa bisa berjalan berdampingan. (adv)






