TENGGARONG – Desa Loh Sumber di Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), perlahan namun pasti menjelma menjadi salah satu pusat pengembangan ekonomi lokal berbasis Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayah Kukar.
Dengan mengandalkan potensi lokal berupa kedelai dan kreativitas masyarakat, desa ini kini dikenal luas sebagai sentra produksi tempe sekaligus produk olahannya seperti keripik tempe yang sudah menembus pasar nasional.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Sukirno, masyarakat tidak hanya fokus pada produksi tempe mentah, tetapi mulai berinovasi mengolah tempe menjadi camilan modern dengan nilai tambah tinggi.
“Dulu kita hanya produksi tempe mentah, sekarang warga mulai berinovasi membuat keripik tempe. Dan hasilnya luar biasa, peminatnya bukan hanya dari Kukar, tapi sudah sampai Jakarta,” ujar Sukirno bangga, Sabtu (24/5/2025).
Produk keripik tempe dari Loh Sumber kini telah mengisi rak-rak toko oleh-oleh dan e-commerce. Pengiriman terbaru bahkan mencatat distribusi 1.000 bungkus keripik tempe ke Jakarta, sebuah capaian yang tak terbayangkan sebelumnya.
Salah satu pelaku usaha, Siti Aminah (42), perajin tempe sekaligus anggota kelompok pengolah keripik tempe, mengaku kini bisa membantu keuangan keluarga dari hasil produksi harian.
“Awalnya saya cuma buat tempe biasa untuk dijual ke warung. Tapi sejak ada pelatihan dari desa dan bantuan alat dari PT MHU, kami mulai belajar bikin keripik. Alhamdulillah sekarang bisa kirim ratusan bungkus per bulan,” ujarnya dengan senyum.
Ia juga mengaku bangga karena produknya kini dikenal hingga ke luar Kalimantan Timur.
“Dulu tidak kepikiran tempe bisa dijual sampai Jakarta. Sekarang bukan cuma buat makan, tapi jadi sumber rezeki. Anak sekolah bisa dibiayai dari usaha ini,” tambahnya.
Capaian ini terjadi berkat sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, dan pihak ketiga. PT Multi Harapan Utama (MHU) memberikan pendampingan teknis, pelatihan produksi, hingga pengemasan dan akses pemasaran.
“PT MHU telah banyak membantu, dari sisi alat produksi, pelatihan cara pengemasan, sampai membantu membuka akses pasar. Mereka juga rutin memberikan pendampingan ke kelompok PKK desa, yang kini jadi motor utama produksi keripik tempe,” jelas Sukirno.
Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi kuat, masyarakat Loh Sumber kini makin percaya diri. Beragam varian keripik mulai diproduksi—original, balado, keju—dengan kemasan kekinian yang siap bersaing di pasar ritel modern.
Untuk menjaga kualitas dan kapasitas produksi, Pemdes membentuk kelompok usaha bersama serta merancang pembangunan rumah produksi terpadu agar proses produksi berjalan higienis dan efisien.
“Ini bukan hanya soal makanan ringan. Ini tentang bagaimana produk desa bisa menopang ekonomi rumah tangga. Banyak ibu rumah tangga kini punya penghasilan sendiri dari usaha keripik tempe ini,” ujar Sukirno.
Ke depan, Pemdes Loh Sumber juga menyiapkan program pelatihan digital marketing dan pemasaran berbasis media sosial guna memperluas jangkauan konsumen.
Bagi perajin seperti Siti Aminah, program ini bukan sekadar usaha, tetapi juga simbol perubahan sosial.
“Kami jadi semangat. Bukan hanya kerja dapur, tapi juga bisa punya produk, punya merek, bahkan ikut pameran. Sekarang kami punya harapan baru,” katanya penuh semangat.
Dengan strategi yang matang dan semangat kolaborasi yang kuat, Desa Loh Sumber bersiap untuk dikenal tak hanya sebagai penghasil tempe, tetapi juga sebagai sentra industri kreatif makanan ringan yang mengangkat ekonomi desa ke tingkat nasional.
“Target kami ke depan adalah bisa masuk retail besar dan pameran nasional. Kami ingin keripik tempe Loh Sumber menjadi oleh-oleh khas dari Kukar, sekaligus simbol kemandirian ekonomi desa,” tutup Sukirno. (adv)






