Don't Show Again Yes, I would!

Loh Sumber Resmi Jadi Desa Mandiri, Warga Rasakan Langsung Hasil Gotong Royong

Kantor Desa Loh Sumber di Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), kini mencatatkan sejarah baru dalam perjalanannya sebagai desa yang terus bertumbuh.

TENGGARONG – Desa Loh Sumber di Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), kini mencatatkan sejarah baru dalam perjalanannya sebagai desa yang terus bertumbuh.

Melalui kerja keras, kolaborasi, dan inovasi berkelanjutan, desa ini resmi menyandang predikat sebagai Desa Mandiri—tingkatan tertinggi dalam indeks pembangunan desa yang ditetapkan pemerintah.

Kepala Desa Loh Sumber, Sukirno, menyampaikan bahwa capaian ini tidak hadir secara instan.

Transformasi desa dari status Desa Berkembang menjadi Desa Mandiri merupakan hasil dari gotong royong seluruh elemen masyarakat—perangkat desa, kelompok tani, pelaku UMKM, hingga dukungan lembaga mitra.

“Sinergi adalah kunci utama. Dengan kolaborasi yang baik, berbagai program bisa berjalan dan hasilnya pun mulai terlihat. Alhamdulillah, sekarang Loh Sumber resmi menjadi desa mandiri,” ujar Sukirno, Jumat (23/5/2025).

Salah satu faktor penting pendorong percepatan pembangunan desa ini adalah reaktivasi BUMDes Sumber Purnama, yang kini bergerak aktif di berbagai sektor: jasa penggilingan padi, penyediaan sarana produksi pertanian, hingga pemasaran hasil panen.

“Dulu banyak petani kesulitan menjual hasil panennya. Sekarang, BUMDes hadir sebagai perantara. Selain membantu distribusi, juga memberi akses permodalan,” jelasnya.

Capaian ini tak hanya terlihat dari indikator administrasi, tetapi juga dirasakan langsung oleh warga.

Paryono (54), petani padi di RT 07, mengaku kehidupannya lebih stabil setelah BUMDes kembali aktif.

“Dulu kami bingung mau jual gabah ke mana. Harga sering jatuh. Tapi sekarang BUMDes bantu tampung dan carikan pasar. Jadi kami fokus bertani tanpa khawatir rugi,” ucapnya.

Sulastri (38), pelaku UMKM pengolahan tempe dan keripik kedelai, juga merasakan manfaat dari program pelatihan dan pendampingan desa.

“Kami diajarin cara kemas produk biar lebih menarik, juga cara jualan online. Dulu cuma dijual keliling kampung, sekarang sudah pernah kirim ke Tenggarong dan Samboja,” katanya.

Menurut Sulastri, semangat warga kini makin tinggi untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan desa karena hasilnya terlihat dan menyentuh langsung kehidupan sehari-hari.

“Kami merasa dilibatkan. Ini bukan lagi program dari atas, tapi usaha bersama. Semua bergerak,” tambahnya.

Status Desa Mandiri diberikan berdasarkan penilaian Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) melalui sejumlah indikator: ketahanan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Di Loh Sumber, seluruh indikator itu menunjukkan peningkatan signifikan—dari infrastruktur dasar, pendidikan, layanan kesehatan, hingga digitalisasi pelayanan publik.

“Dulu kami hanya fokus membenahi infrastruktur. Sekarang kami bergerak ke arah penguatan sumber daya manusia dan digitalisasi pemerintahan desa,” ujar Sukirno.

Ia menegaskan bahwa capaian ini bukan akhir, melainkan awal dari fase baru menuju desa yang tidak hanya mandiri, tapi juga inspiratif.

“Kami ingin jadi contoh. Tidak hanya soal pertanian atau ekonomi, tapi juga dalam pelayanan publik, pengelolaan data, dan partisipasi masyarakat,” pungkasnya.

Dengan semangat gotong royong yang terus terjaga, Desa Loh Sumber kini menjadi bukti nyata bahwa desa bukan lagi objek pembangunan, melainkan subjek yang memimpin perubahan dari akar rumput. (adv)

Share: