Samarinda – Polemik relokasi Pasar Subuh masih terus bergulir meski lapak-lapak pedagang telah dibongkar paksa oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda. Kritik tajam datang dari DPRD Kota Samarinda yang menilai langkah Pemkot terlalu represif dan minim dialog.
Wakil Ketua DPRD Samarinda, Ahmad Vananzda, menjadi salah satu pihak yang paling vokal menyuarakan penolakan terhadap cara relokasi tersebut. Ia menegaskan bahwa yang dipermasalahkan bukan relokasinya, melainkan metode yang digunakan pemerintah.
“Relokasi itu boleh saja, tapi harus dengan cara yang manusiawi. Bukan dengan pendekatan kekuatan,” ujar Vananzda dengan nada tegas.
Ia juga membantah klaim Asisten II Pemkot Samarinda, Marnabas Patiroy, yang menyatakan bahwa pemerintah telah berdialog dengan pedagang selama satu setengah tahun. Menurut Vananzda, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pedagang justru baru diberitahu soal pembongkaran hanya sehari sebelumnya.
“Saya turun langsung pagi-pagi ke lokasi, berharap bisa menghentikan pembongkaran. Tapi saya justru melihat pengerahan besar-besaran aparat Satpol PP, polisi, bahkan TNI. Semua itu hanya untuk menghadapi delapan pedagang yang masih bertahan? Ini bukan zona konflik, ini pasar,” kecamnya.
Vananzda menilai pendekatan seperti ini bukan hanya menimbulkan trauma sosial, tetapi juga merupakan pemborosan anggaran. Terlebih, lahan yang dibongkar bukan aset pemerintah, melainkan milik pribadi.
“Operasi semacam itu pasti menelan biaya besar. Padahal, kalau sejak awal komunikasi dibangun dengan baik, para pedagang bisa saja direlokasi tanpa harus ada benturan,” tambahnya.
Politikus Partai PDI Perjuangan ini juga menyayangkan tertutupnya ruang mediasi antara pemerintah dan pedagang. Dirinya meminta pemerintah untuk dapat menjadikan dialog dan mediasi sebagai media utama sebelum kebijakan diterapkan.
“Kebijakan itu boleh tegas, tapi jangan kehilangan sisi kemanusiaan. Jika hanya karena delapan pedagang kita bisa hilang empati, maka perlu kita renungkan kembali: seperti apa sebenarnya cara kita memimpin?” tutup Vananzda. (adv)






