TENGGARONG – Sehari menjelang akhir Ramadan, angin di halaman Kantor Bupati Kukar berembus pelan, membawa aroma haru dan syukur.
Di bawah langit cerah Tenggarong, sebanyak 704 ASN dan tenaga honorer di lingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara menerima bingkisan Lebaran—bukan sekadar paket sembako, tapi tanda kasih, perhatian, dan solidaritas sesama insan pengabdi negeri.
Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Sekretaris Daerah Kukar, Sunggono, pada Jumat (28/3/2025), di Teras Kantor Bupati.
Dalam balutan kesederhanaan acara, tersimpan makna besar: bahwa di balik roda birokrasi yang terus berputar, ada empati yang tetap hidup dan tumbuh di antara sesama pegawai.
“Mohon maaf lahir dan batin. Semoga bingkisan ini membawa berkah, dan menjadi penguat kebersamaan kita semua dalam menyambut Hari Raya Idulfitri,” ucap Sunggono dengan suara yang tenang namun sarat kehangatan.
Bingkisan ini bukan hasil pengadaan negara. Ia lahir dari sumbangsih sukarela para pejabat struktural dan Kepala Bagian di Setkab Kukar—sebuah gerakan sunyi namun penuh makna, yang lahir dari kesadaran bahwa kebahagiaan itu layak dibagi, terutama kepada mereka yang selama ini setia mendukung jalannya roda pemerintahan dari balik layar.
“Jangan lihat nilainya. Lihat niatnya. Ini adalah bentuk kepedulian kita, sebagai satu keluarga besar di Pemkab Kukar,” lanjutnya.
Bagi sebagian penerima, bingkisan itu bukan hanya bantuan logistik. Ia adalah kelegaan menjelang Lebaran. Adalah bentuk hadirnya pemerintah di tengah kesederhanaan hidup para tenaga honorer yang setiap harinya bekerja tanpa pamrih.
“Alhamdulillah… bisa bawa pulang sesuatu buat anak-anak. Kami tidak dilupakan,” ucap lirih seorang tenaga kebersihan yang turut menerima bingkisan, matanya berkaca.
Sunggono juga menegaskan bahwa perhatian Pemkab Kukar tidak berhenti pada bingkisan. Ia meminta agar gaji, tunjangan, dan hak-hak ASN maupun Non-ASN segera disalurkan.
Menurutnya, kehadiran negara bukan hanya soal kebijakan, tapi kepekaan terhadap kebutuhan warganya—terlebih jelang hari besar keagamaan.
“Kalau kita bisa membuat pegawai kita tersenyum di Hari Raya, itulah kemenangan kita yang sebenarnya,” ujarnya mantap.
Ia juga mengingatkan tentang pemakaian kendaraan dinas selama libur Lebaran, agar digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. Baginya, kehormatan sebagai pelayan masyarakat harus dijaga, bahkan ketika rutinitas kantor sedang rehat sejenak.
Di balik tumpukan sembako itu, ada wajah-wajah yang pulang membawa lebih dari sekadar beras, minyak, atau gula. Mereka membawa pengakuan bahwa kerja keras mereka diakui. Bahwa dalam sunyi dan kesaharian yang kadang tak terlihat, ada pimpinan yang peduli.
“Bantuan ini kecil mungkin, tapi dampaknya besar. Rasanya seperti pulang ke rumah yang hangat,” ujar salah seorang staf tata usaha sambil memeluk erat paket yang ia terima.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara percaya, bahwa kebersamaan bukan dibangun di ruang rapat—tetapi di momen seperti ini. Di mana rasa menjadi lebih penting dari angka, dan hati lebih berperan dibanding hitungan anggaran. (mt)






