TENGGARONG – Udara dini hari di Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, terasa berbeda dari biasanya.
Pada Jumat (21/3/2025) itu, cahaya lampu-lampu sederhana berpadu dengan semarak suara tawa dan lantunan musik akustik, menyambut kehadiran ratusan warga yang berkumpul di halaman Kantor Desa.
Ramadan benar-benar hidup di sini—bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam rasa. Dan di tengah suasana yang hangat dan penuh haru itulah, Wakil Bupati Kutai Kartanegara, Rendi Solihin, hadir tanpa jarak, duduk bersila, bersendau gurau, dan menyantap sahur bersama masyarakat dalam kegiatan bertajuk “Sahur Nyatu Disini”, bagian dari gerakan “Saur On The Road” yang ia gagas.
Acara itu bukan panggung politik, bukan juga formalitas pemerintahan. Ia adalah ruang kehangatan, di mana pemimpin dan rakyat menyatu dalam satu meja, satu gelas teh, satu piring nasi, dan satu doa bersama menjelang fajar.
Dari anak-anak yang berlarian, para pemuda yang duduk sambil menikmati alunan musik akustik, hingga para orang tua yang dengan penuh rasa ingin tahu menanti kesempatan untuk berbicara langsung dengan pemimpinnya—semua menyambut kehadiran Wabup Rendi dengan tulus.
Suasana menjadi semakin semarak ketika selebgram lokal Ambo Nai, yang tengah naik daun di kalangan milenial Kukar, naik ke atas panggung.
Candaan khas dan interaksinya dengan warga membuat acara ini lebih dari sekadar sahur—ia menjadi pesta kecil yang membalut kesederhanaan dengan tawa dan harapan.
Ketika mikrofon berpindah ke tangan Wabup Rendi, suasana menjadi hening. Ia tidak berbicara dari podium, melainkan dari tengah kerumunan, duduk santai seperti seorang kakak yang ingin berbagi cerita kepada adik-adiknya.
“Saya sangat senang bisa sahur bareng warga Desa Batuah. Ini bukan sekadar makan bersama, tapi bentuk nyata kebersamaan kita di bulan suci ini. Semoga ini menjadi amal ibadah bagi kita semua,” ujarnya, disambut tepuk tangan warga.
Dalam balutan jaket santai dan celana jeans, Rendi Solihin tampak nyaman. Ia membuka ruang komunikasi dua arah.
“Nanti kalau kita syukuran atau pesta rakyat, Desa Batuah ingin dihadirkan siapa lagi? Mau artis siapa?” tanyanya, memancing gelak tawa warga. Seorang anak muda dengan percaya diri menyebut nama artis ibu kota, yang langsung disambut sorak-sorai yang membahana.
Namun, di balik canda, Rendi menyisipkan pesan yang dalam. Ia meminta doa. Ia tidak meminta pujian atau sanjungan, melainkan hanya kekuatan dari Tuhan dan dukungan dari rakyatnya.
“Saya mohon doanya agar saya dan Pak Edi Damansyah terus diberikan kekuatan untuk menyelesaikan amanah yang sudah kita mulai bersama. Baik itu pembangunan infrastruktur, pelayanan masyarakat, maupun peningkatan ekonomi di Kukar yang kita cintai ini,” katanya dengan suara yang berat, seolah menyimpan rasa lelah yang tidak ingin ditunjukkan.
Rendi menegaskan bahwa hadir di tengah masyarakat bukan hanya simbolis. Ia ingin membuktikan bahwa janji-janji dalam visi Kukar Idaman bukan slogan semata, tapi cita-cita yang sedang ia perjuangkan agar dirasakan nyata oleh rakyat, hingga ke pelosok desa.
Menjelang waktu imsak, acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.
Tangan-tangan warga terangkat ke langit malam, bibir mereka komat-kamit, memohon agar pemimpin mereka dimudahkan jalannya, dan agar Kukar terus diberi kedamaian serta kesejahteraan.
Usai doa, suasana tak langsung bubar. Warga berebut foto bersama Wabup Rendi. Ada yang bersalaman, ada yang menitipkan harapan soal perbaikan jalan desa, ada pula yang hanya ingin mengucap terima kasih atas kehadirannya.
Di satu sudut, seorang ibu dengan mata berbinar berkata, “Saya tidak pernah sangka bisa sahur bareng wakil bupati. Ini baru namanya pemimpin yang benar-benar dekat dengan rakyat.”
Melalui kegiatan seperti “Saur On The Road,” Pemerintah Kabupaten Kukar membuktikan bahwa kepemimpinan tidak hanya dibangun lewat meja rapat dan pidato formal.
Kepemimpinan yang menginspirasi lahir dari keberanian untuk hadir, mendengar, menyentuh, dan menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat.
Sahur bersama Rendi Solihin bukan hanya tentang makanan, melainkan tentang kehadiran yang menyentuh. Ia menjadi gambaran bahwa Ramadan tak hanya mengajarkan iman dan ibadah, tapi juga cinta, kepedulian, dan kepemimpinan yang membumi. (ADV)






